Sampai hari Jum'at, 8 Agustus 2008..Terkumpul dana zakat dan infaq sebesar Rp. 18,8 juta.
Telah dibelanjakan Rp. 10 juta, saat ini sedang dilakukan penyiapan saung bambu untuk ruang pembelajaran.
Bagi rekan-rekan yang membutuhkan panduan tentang zakat, infaq, dan shadaqah, silahkan mengunjungi situs-situs terkait yang cukup banyak jumlah dan ragamnya. Diantaranya situs-situs di bawah ini (KLIK kiri) :1.
Panduan zakat dari Portal Infaq2.
Pengenalan zakat dari Rumah Zakat Indonesia3.
Definisi Infaq, Shadaqah, dan Zakat4.
Kalkulator Zakat ProfesiPertanyaan tentang rincian penggunaan dana, silahkan menghubungi via email pengelola blogspot ini.
Semoga ALLAH melapangkan jalan kita untuk lebih mengenal dan mendekat kepadaNYA. Aamiin.
Apakah yang kita maksud dengan belajar? Apakah terdapat belajar jika kita hanya sekadar menumpuk pengetahuan, mengumpulkan informasi? Itu satu jenis belajar, bukan? Sebagai mahasiswa teknologi, Anda belajar matematika, dan sebagainya; Anda belajar, memberikan informasi kepada diri Anda tentang subyek itu. Anda mengumpulkan pengetahuan untuk digunakan secara praktis. Belajar Anda bersifat kumulatif, menambah. Nah, jika batin sekadar mengambil, menambah, memperoleh, apakah itu belajar? Ataukah belajar itu sesuatu yang sama sekali lain? Saya berkata, proses penambahan yang sekarang kita namakan ’belajar’ ini bukan belajar sama sekali. Itu sekadar memupuk ingatan, yang menjadi mekanis; dan suatu batin yang berfungsi secara mekanis, seperti mesin, tidak mampu belajar. Sebuah mesin tidak mampu belajar, kecuali dalam arti menambah. Belajar adalah sesuatu yang lain sekali, seperti akan saya coba tunjukkan kepada Anda.
Sebuah batin yang belajar tidak pernah berkata, ”Saya tahu,” oleh karena pengetahuan selalu bersifat parsial, sedangkan belajar selalu lengkap selamanya. Belajar bukan berarti mulai dengan sejumlah pengetahuan tertentu, lalu menambahkan pengetahuan baru kepadanya. Itu sama sekali bukan belajar; itu proses mekanis murni. Bagi saya, belajar adalah sama sekali lain, saya belajar tentang diri saya dari saat ke saat, dan diri ini luar biasa hidupnya; ia hidup, bergerak; ia tidak punya awal, tidak punya akhir. Ketika saya berkata, ”Saya tahu diri saya,” belajar pun berhenti dalam timbunan pengetahuan. Belajar tidak pernah bersifat kumulatif; ia adalah gerak mengetahui yang tidak punya awal tidak punya akhir.
Di dalam mencari pengetahuan, di dalam keinginan menumpuk, kita kehilangan cinta, kita menumpulkan rasa akan keindahan, kepekaan akan kekejaman; makin lama kita makin terspesialisasi, dan makin kurang terintegrasi. Kearifan tidak bisa digantikan oleh pengetahuan; sebanyak apa pun penjelasan diberikan, sebanyak apa pun fakta dikumpulkan, tidak akan membebaskan manusia dari penderitaan. Pengetahuan itu perlu, sains mempunyai tempatnya; tetapi jika batin dan hati tercekik oleh pengetahuan, dan jika sebab-musabab penderitaan dicoba untuk dihilangkan dengan dijelaskan, hidup menjadi sia-sia dan tanpa makna. ...
Informasi, pengetahuan akan fakta-fakta, sekalipun terus bertambah, pada dasarnya selalu terbatas. Kearifan tidak terbatas; ia mencakup pengetahuan, dan tindakan; tetapi kita memegang suatu cabang, dan mengira itu seluruh pohon. Melalui pengetahuan tentang sebagian, kita tidak pernah merealisasikan sukacita dari keseluruhan. Intelek tidak pernah dapat menjangkau keseluruhan, oleh karena ia hanyalah sekadar suatu segmen, bagian.
Kita telah memisahkan intelek dari perasaan, dan mengembangkan intelek sambil mengesampingkan perasaan. Kita seperti kursi berkaki tiga, dengan satu kaki jauh lebih panjang daripada kaki-kaki yang lain, dan kita tidak punya keseimbangan. Kita terdidik untuk menjadi intelektual. Pendidikan kita memupuk intelek agar menjadi tajam, licin, selalu berupaya memiliki, sehingga intelek paling berperan dalam kehidupan kita. Kecerdasan jauh lebih besar daripada intelek, oleh karena kecerdasan adalah paduan antara akal budi dan cinta; tetapi kecerdasan hanya mungkin ada apabila terdapat pengenalan-diri, pemahaman yang mendalam akan keseluruhan proses diri.
[The Book of Life, 17 September]






Kebanyakan dari kita tidak peduli dengan alam semesta luar biasa yang ada di sekitar kita. Kita bahkan tidak pernah melihat lambaian daun tertiup angin. Kita tidak pernah memandang sehelai rumput, menyentuhnya dengan tangan kita, dan mengetahui kualitas keberadaannya. Ini bukan sekadar puitis; jadi, jangan menyimpang ke dalam suatu keadaan spekulatif atau emosional.
... adalah penting untuk memiliki perasaan yang mendalam tentang kehidupan, dan bukan terperangkap dalam liku-liku intelektual, diskusi, upaya untuk lulus ujian, mengutip seseorang, atau mengesampingkan sesuatu yang baru dengan mengatakan bahwa itu pernah dikatakan orang sebelumnya. Intelek bukanlah jalan. Intelek tidak akan memecahkan masalah-masalah kita. Intelek tidak akan memberi kita gizi yang tak mungkin musnah. Intelek dapat berpikir, berdiskusi, menganalisis, sampai kepada kesimpulan berdasarkan inferensi dan sebagainya; tetapi intelek terbatas, oleh karena intelek itu hasil dari keterkondisian kita. Tetapi kepekaan lain. Kepekaan tidak memiliki pengkondisian; ia langsung membawa Anda keluar dari lingkup rasa takut dan kecemasan.... Kita menghabiskan hari-hari dan tahun-tahun kita dalam mengembangkan intelek, dengan berdebat, berdiskusi, berkelahi, bergulat untuk menjadi sesuatu, dan sebagainya. Namun, dunia yang luar biasa menakjubkan ini, bumi ini begitu kaya—bukan bumi Bombay, bukan bumi Punjab, bumi Rusia atau bumi Amerika—bumi ini milik kita, milik Anda dan milik saya; dan itu bukan omong kosong sentimental, itu fakta. Tetapi sayang sekali, kita telah membagi-baginya dengan keremehan kita, dengan sikap kedaerahan kita. Dan kita tahu mengapa kita melakukannya—demi rasa aman kita, demi lapangan pekerjaan yang lebih baik dan lebih banyak(lagi). Itulah permainan politik yang dimainkan orang di seluruh dunia; sehingga kita lupa untuk menjadi manusia, untuk hidup berbahagia di muka bumi yang kita miliki, dan memanfaatkannya.[The Book of Life, renungan 5 September, Intelek Tidak Akan Memecahkan Masalah Kita]