Jumat, 20 Juni 2008

Mobilisasi intellektuil nasional untuk mengadakan wajib belajar

PENGAJARAN MEMBATJA DAN MENULIS PERMULAAN

Sembojan: tiap-tiap Orang djadi Guru;
tiap-tiap Rumah djadi Perguruan!

I. PENDAHULUAN

Saja pernah mengandjurkan akan adanja "mobilisasi intellektuil nasional", dengan mengundang segenap kaum terpeladjar, untuk memberi tenaganja guna mengadakan "wadjib beladjar" sendiri. Maksudnja jaitu: djangan sampai kita melihat saudara kita sebangsa disekeliling kita masih buta huruf. Barang siapa tjakap membatja dan menulis, wadjib mengadjarkan membatja dan menulis pada siapapun djuga, baik anak-anak maupun orang tua, laki-laki maupun perempuan. Tiap-tiap rumah harus mendjadi perguruan; demikianlah sembojan kita.

Tulisan di atas dikutip dari tulisan Ki Hadjar Dewantara di dalam bukunya "Karja Ki Hadjar Dewantara. Bagian pertama: PENDIDIKAN", terbitan tahun 1962, yang dikutip dari Majalah Keluarga, terbitan Desember 1936 - Th. I No. 2, yang merupakan tanggapan beliau terhadap susahnya masyarakat untuk bisa bersekolah versi penjajah (Belanda) sehingga mereka menjadi masyarakat yang tidak terdidik, tidak bisa membaca dan menulis. Beliau sangat prihatin dengan keadaan itu dan mendorong munculnya sebuah "perlawanan" dengan anjuran "mobilisasi intellektuil nasional".
Saat ini, setelah 72 tahun tulisan di atas dimuat, kondisinya tidak terlalu berbeda. Masih begitu banyak masyarakat kita yang tidak terdidik karena sistem yang ada membuat mereka tidak mampu atau tidak dimampukan untuk terdidik. Begitu banyak masyarakat "buta" dan atau "dibutakan" terhadap potensi dirinya, masyarakatnya, bangsanya, budayanya, kearifan lokalnya, dan lingkungan alamnya.
Lalu, akankah kita diam? Akankah kita tidak terpanggil untuk memobilisasi diri "mencelikkan kebutaan" masyarakat?
Bukan sesuatu yang berat jika kita mau bersama-sama memobilisasi diri menjadi "pelenyap kegelapan".

Terima kasih,
Salam Perguruan

Tidak ada komentar: